Friday, December 28, 2012

My cooking log and Hotteok

Sejak tinggal dan punya dapur sendiri, memasak terpaksa jadi bagian dari rutinitas saya. Di Jakarta, boro-boro masak ke dapur saja jarang. Kalau saya masak pun pasti semua asisten di rumah ikut heboh. Bikin males. Wajar sih, mungkin takut dapurnya makin hancur setelah saya selesai. Waktu saya mau ke Canberra pun ada beberapa yang khawatir 'Kanya masak saja ngga pernah, gimana mau tinggal sendiri?'. Toh saya santai saja soal masak-memasak ini, saya awalnya juga bingung kenapa bisa memasak (as in survival skill) dan tidak menganggap ini hal yang luar biasa. Setelah saya ingat-ingat mungkin karena dulu ikut pramuka sampai SMP ditambah pelajaran tata boga. Jadinya ya, dapur sama sekali ngga asing buat saya.

Sekarang, karena dapur cuma 3 langkah dari tempat tidur saya tidak lagi memasak sebatas untuk bertahan hidup :p I just love the idea that stove and microwave are magical. Selama hampir 3 tahun terakhir saya banyak eksperimen. Awal tahun ini saya membuat daftar kecil makanan yang saya buat dan saya tempel di pintu kulkas. You can't really see read the list because of my bluuuuuurrry picture but most are Japanese/Korean food ;j yum.

Ignore the top left note. Yeah, I was crazy about CN Blue earlier this year :p
Long story short today was my third attempt to make Hotteok, Korean sweet pancake, one of their sweet street food. Not sure if you're familiar with this one because it's not as popular as the spicy rice cake. Resep dasarnya seperti donut kampung tapi diisi dengan gula merah, kacang, dan kayu manis lalu ditekan supaya berbentuk pipih. Ah, you know a picture speaks a thousand word, so I'll show you a few of them..

The Dough
This batch's a bit burnt :/
I've tried two recipes (with and without glutinous rice flour) and decided that I prefer the less chewy one. Rasanya jadi seperti donat tipis manis dan harum rempah :) I love that nothing's too fancy about this snack, maybe because I actually used a (gigantic) bar of coconut sugar instead of brown sugar. Soo although this is one of those 'korean thing', this snack actually brings back the nostalgic and familiar feeling of home. A perfect companion for your daily afternoon tea/coffee time.


Tertarik mencoba? Resepnya didapat dari 2 food blogger Korea favorit saya: Beyond Kimchee (dengan tepung ketan) dan  Maangchi.

UPDATE
I recommend to use coconut sugar rather than mere brown sugar, it gives a distinctive fragrant and flavour to your hotteok. I also did some minor experiments with the filling and used chocolate and sesame seeds (since, you know, sesame seeds and chocolate are magical) :)

Thursday, December 27, 2012

smooshy


smooshy

smooshy by kanyastira

made this set 4 years ago, funny that I still love this set

Wednesday, December 26, 2012

Pertemanan dunia maya

Barusan nostalgi(l)a dengan si blog lama, sekalian cek daftar blogger yang masih aktif untuk ditaro di blog yang ini. uh oh, surprising. Hampir semuanya tidak aktif; dihapus, privated, atau berhenti diupdate sejak minimal setahun lalu :o ternyata saya bukan satu-satunya yang vakum nge-blog ya? Salut untuk yang tetap rajin update sampai sekarang!

Ngomong-ngomong soal nostalgia dengan internet, saya punya lingkaran pertemanan dunia maya. Sekitar tahun 2003/2004 internet mulai menjadi barang umum. Saya sih ngga ikutan gegap MIRC (mungkin terlalu kecil untuk mengerti cara pakenya waktu itu) tapi saya aktif di beberapa mailing list, blog, social networking sites dan forum. I was such a perfect definition of internet nerd, don't get me wrong tho, I had real friends too! :p

Semuanya berawal sekitar tahun 2004 dari milis pembaca Sitta Karina (one of the most aspiring Indonesian teen-lit writers ever, really). Interaksi dari email pembaca pun berlanjut ke Friendster (the hippest site ever you knoh back in the day) dan blog. Semuanya suka menulis kegiatan sehari-hari mereka di blog dan membaca tulisan yang lainnya. Terus berlanjut seperti itu selama bertahun-tahun. Lucunya untuk 3 tahun pertama, walaupun kita semua tinggal di kota yang sama, kita tidak pernah berlanjut ke 'kopi darat'. Mungkin waktu itu semuanya masih terlalu kecil untuk pergi sendiri bertemu dengan 'orang-orang asing'. Apalagi waktu itu isu penculikan melalui internet juga mulai santer dimana-mana.

Akhirnya tahun 2007 saya bertemu langsung dengan dua dari mereka di acara peluncuran buku Sitta Karina. Tidak ngobrol banyak dan sedikit canggung--rasanya benar-benar aneh. Padahal bisa dibilang saya merasa dekat dengan mereka, mungkin karena selalu membaca apa yang mereka tulis dan ungkapkan di blog masing-masing. Saya merasa saya dapat mengerti perasaan dan pemikiran mereka. Secara tidak sadar kita tumbuh bersama-sama.

Mungkin ini sesuatu yang hanya terjadi di angkatan saya karena sekarang situs-situs jejaring sosial sudah lebih jauh menembus area pribadi dibanding dulu. I mean really, the overly public facebook and the short but intense intimacy of twitter--most Indonesians are now familiar with them. Sometimes they're just overrated and too much /okay I'll stop my anti social rant lol/

Setelah itu tahun-tahun lewat begitu saja, masing-masing masih rajin menulis blog dan kadang saling sms. Saya sempat membuat 2 majalah online dengan beberapa dari mereka. Lalu datang jaman Blackberry dan Twitter. Saya merasa menjadi lebih dekat dalam konteks yang berbeda. Karena hampir semuanya banci twitter :p saya menjadi lebih familiar dengan kegiatan sehari-hari mereka tapi tidak sedalam kalau saya membaca tulisan-tulisan mereka di blog. Bukan sesuatu yang buruk kok cuma beda saja. It is inevitable anyway. Eh kalo dilihat-lihat ini kayak potret anak Jakarta yang lahir di awal tahun 90an banget :j

Setelah saya pindah ke Canberra, beberapa kali mereka kopi darat tapi sampai hari ini saya belum pernah bertemu dengan semuanya (cuma sempat ketemu sama salah satu dari mereka tahun lalu) ditambah lagi saya sempat 'timbul-tenggelam' karena nyaris tidak ada keinginan untuk menulis sama sekali 3 tahun terakhir. Lucu ya, padahal mereka termasuk teman-teman terlama saya. Sebenarnya post panjang ini cuma untuk mendokumentasikan pertemanan dunia maya yang unik ini haha nah, I don't want to mention names, but you do know don't you? :)


Someday, maybe someday, I'll have our little first meeting and reunion, both in the same time :)

Tuesday, December 25, 2012

Say hello to Tokki-chan

See the new icon on the sidebar? Say hello to Tokki-chan!

As cliche as it sounds, I wanted to name her 'Usa-chan' but lol nah, too mainstream. Then I came up with the most original idea ever, Tokki, which also means bunny but in Korean :p hipster attempt: fail.


Actually she has been occupying my small sketch book since few months ago. This is just one of my random sketches since I can't really draw or paint. In general my drawing style (if its actually a 'style') is very manga-ish because I'm indeed a big fan of Japanese manga even before I could read them :p I also joined manga drawing class when I was in junior high school. Well, I can say I enjoy drawing/painting but not as talented as my supa artsy friends.


As for the GIF image. I was crazy about them when I was in, again, junior high school. At that time making GIFs was not as easy as now. Now you can just use 1 software to make it or look for the online GIF makers (I'm an avid user of Photoshop, as shown) but in the days of Photoshop CS2 and before that I had to use at least 2 softwares (I don't remember what was the other one but both were from Adobe). I know, I know so much to do when I had to rely on the dial-up connection :p

Blog Skin

Bagi yang sudah lama mengikuti blog saya pasti sadar tahun lalu saya mengganti blog yang lama dengan yang baru dengan memakai url yang sama. Sudah hampir 8 tahun saya nge-blog  dan blog yang lama berisi banyak sekali kenangan tapi akhirnya saya memutuskan lebih baik itu saya jadikan konsumsi pribadi :p

Bagi yang sudah lama menjadi pembaca blog ini pun pasti sadar saya suka membuat layout sendiri. It's true that for the last 3 years I've been somewhat neglecting this blog. Put aside my old-almost-stale excuse ("I'm so busy, doing uni abroad isnt easy. tsk!"), finally I realized that.. nope, simple is not always nice. My blog is so boring. Maybe this is also due to those dry courses i've been doing for the last 3 years but, really, I crave for colors (pastels!) and shapes. So after few many, many, hours..

Voila!

See those colorful pastel polkadots? Oh, I'm in love with them! Frankly speaking I scanned copied them from my iPad sticker that I got from Typo yesterday and /sighs/ sorry, but none of those pictures are mine (except for the 'polaroid' photos on the banner) :p

Noticed that something's off with my iPad decal? I bought the wrong size :p
Since I feel bad, I'm giving credits for everyone..

Blog Template - okay, I still remember I did this 7 years ago when I was still in junior high (up until I was in high school, pre-IB madness for sure). Editing css and trying to make it as original as I could. Surprisingly, just like the old days, I had to spent hours and hours to get this somewhat simple template done yet this is not from scratch. I got the basic code from here.

The Original Template
Fonts - Apart from the default post font, I used Indonesiana Serif and Dawning of A New Day for the banner. They are free from Dafont.

Stickers - This is the most important credit, I got those cutesies from here. She made a cute doodle font set by herself and, for a non-art student like me, that is just awesome!

The Doodle Font
Facebook, Twitter, and Instagram Buttons - I got the doodled FB and Twitter icons from here. The set doesn't have Instagram icon so I edited a bit with original logo from here.

This is so much fun, I wonder why I never thought about being a web designer :p anyways, I wanted to share some more random stuff but too tired to take pictures and upload them nicely. The next post, that is :)



For those who are celebrating the magical 25th of December,
I wish you a lovely and merry Christmas :)

Sunday, November 11, 2012

Tanah

Sejak kecil saya sering mengunjungi tempat peristirahatan terakhir mereka yang selalu direnungkan di setiap upacara bendera. Hanya ada dua tempat wajib yang selalu kami datangi, tapi diantaranya ada banyak sekali topi-topi berlapis timah yang tanpa nama bertaburkan bunga kamboja putih dari beberapa pohon yang tumbuh di sekitarnya. Seakan tidak ada yang tersisa lagi. Sendu, hanya sendu. Mungkin karena itu bagian dari upacara bendera yang paling saya sukai adalah merenungkan jasa para pahlawan. Saya yakin saya dulu tidak begitu mengerti arti sesungguhnya dari apa yang mereka lakukan untuk bangsa ini. Tentu saja saya tahu mereka telah melakukan sesuatu yang baik dan besar sehingga selalu diingat jasanya. Saya selalu mengisi perenungan dengan doa, untuk mereka yang telah berjasa dan berkorban.

Sampai kemarin ketika saya mengikuti Upacara Peringatan Sumpah Pemuda di KBRI. Saya sadar sudah lama saya melupakan mereka yang beristirahat di Kalibata, mereka yang hanya meninggalkan jasa bahkan nama pun ikut terbawa kembali ke tanah. Sejak kecil saya sudah disodorkan berbagai cerita lama, dinamika jaman perjuangan, bukan yang penuh dengan tumpah darah dan kebanggaan seperti di buku sejarah sekolah tapi yang penuh dengan cita-cita, harapan, dan kesenduan sebuah keluarga yang ikut serta dalam samudra perjuangan. Sebagian dari bangsa ini dibentuk dari semua yang telah dilakukan oleh mereka yang beristirahat di Kalibata. Segala jerih payah yang sekarang hanya bisa dijamah oleh kalimat dan kenangan.

Untuk mereka yang telah berupaya demi Indonesia yang lebih baik,
Untuk semua nama yang terhapus waktu,
Untuk Eyang Kakung dan Putri,



Selamat Hari Pahlawan


Doa akan selalu menyertai, semoga dapat beristirahat dengan tenang.

Friday, October 19, 2012

Malam

Di satu titik, berhenti dan tarik nafas.

Di titik itu waktu sudah melebur tidak lagi terdefinisikan. Semua kotak buyar, semua sekat menguap. Aku, kamu. Satu. Kata orang ada yang membuka kotak pandora; bentuk tak lagi dapat dijamah. Hal yang terakhir kau lihat adalah jari-jarimu yang semakin semu.

Di titik itu, hanya disitu, kau akhirnya berhenti..



dan tarik nafas.

Thursday, October 18, 2012

Sudah Waktunya

This is that time of the semester.

Pada saat semua tuntutan tiba-tiba harus dipenuhi pada saat bersamaan. Hanya terjadi dua kali dalam setahun tapi saya tidak pernah terbiasa. Selalu buru-buru di belakang, sekarang ini. Ujian sudah di depan mata dan banyak tugas yang harus dikumpulkan, akhirnya malah tulis blog :p

On the brighter side, I finally got a job after all of those CVs and cover letters and all. Sebagai Christmas casual di Rubi Shoes untuk menggantikan para mbak-mas penjaga toko reguler yang mudik. Sebenernya, sudah hampir setahun terakhir saya mencari kerja part-time yang dengan sukses gatot. Beberapa orang bilang mungkin saya terlalu pilih-pilih jenis pekerjaan. I really did not, really. Mungkin yang terjadi malah efek sebaliknya, saya pasang harga terlalu rendah jadi ga ada yang mau :p Sampai akhirnya beberapa bulan lalu, saya tiba-tiba sadar mungkin memang belum waktunya saya dapat kerja. Eh betul, 2 minggu lalu saya diberitahu kalau Cotton Group buka open interview untuk Christmas casual. I just casually went to the interview and in 3 days they called me back. Ya, segampang itu saya dapat kerja.

Jadi sekarang lah 'sudah waktunya'.

Kabar lainnya saya sedang dalam proses menulis cerpen yang akan menjadi bagian dari sebuah kumpulan cerpen. Mungkin beberapa orang sudah tahu, tahun lalu saya ikut kelas menulis cerpen online yang diadakan oleh sekolah menulis PlotPoint. I was such a bad student. Pada waktu tugas akhir sudah harus dikumpulkan saya sedang magang di Fiji Arts Council di Suva, Fiji, dan jadwalnya sangat padat. Akhirnya saya mengumpulkan sebuah cerpen setengah hati. Long story short, PlotPoint membuka kesempatan bagi para peserta kelas cerpen angkatan saya untuk menerbitkan karya mereka dalam bentuk kumpulan cerpen. Saya kirim dua cerpen saya dan terpilih sebagai salah satu kontributor di proyek tersebut ;D I just sent my first draft two days ago and really not sure about it :/


aaand no, I'm not going home for summer, people!

Friday, September 21, 2012

Twitter's tweet

Bagi saya kegunaan utama internet adalah untuk membuka wawasan dengan segala kemudahan dan kecepatannya. Informasi seperti air yang mengalir kepada siapa pun yang membuka keran yang tepat. Tapi rupanya secara tidak sadar internet juga membangun ideal-ideal sosial tertentu karena hampir semuanya terbuka begitu saja. Oke, ini bukan esai tentang psikologi digital saya hanya ingin berbagi opini :p

Sebenarnya sudah lama saya menyadari adanya kecendrungan ini tapi tidak benar-benar memperhatikan sampai saya menemukan sebuah akun twitter yang memiliki nama yang sama dengan salah seorang sahabat saya dan mencantumkan alma mater saya sebagai sekolahnya. Awalnya saya kira   ini sebuah kebetulan yang menarik, until I realized few small inept slips. Bukan cuma tentang sekolah tapi hal-hal familiar lainnya.

Saya jadi penasaran.

Setelah buka-buka sana sini, lihat ini itu ala detektif :p akhirnya saya sadar bahwa akun tadi palsu. Si user tidak nyata. Tapi tidak berhenti disitu, ada 9 akun palsu lainnya yang saling nyambung. Ini seperti permainan roleplay tentang sebuah sekolah internasional dan anak-anaknya yang sama sekali tidak seperti alma mater saya. The things are just not right.

Akhirnya saya sadar ini adalah sebuah idealisme si pemilik semua akun itu. Ya sudahlah, memang bagi sebagian orang Jakarta ada sekelompok hal tertentu yang membentuk kehidupan sosial kita (please note: not 'supports' but 'moulds' the social life). Rupanya Blackberry, iPhone, dan mobil adalah sebagian dari kelompok itu. Bukan hanya apa yang kita miliki tapi juga di mana kita sekolah dan tinggal. Dari kacamata tertentu seperti konstruksi sosial hedonis yang menilai semuanya dari kemampuan untuk membeli sesuatu.

Saya tidak menyalahkan si pemilik akun-akun itu, internet memang membuka wawasan tentang apa pun yang kita ingin tahu termasuk tentang kehidupan sosial tertentu yang mungkin terlihat 'lebih'. Tapi mungkin lain kali jangan memakai nama sahabat saya, mencantumkan alma mater saya dan di angkatan yang sama dengan adik saya. That, in a very subtle way, creeps me out.

--

On the side note, saya akhirnya berhasil sampai di studio bikram lagi setelah 2 bulan absen. Sekarang semua sakit dan saya hutang karena kemarin lupa bawa dompet :p

Wednesday, August 29, 2012

Foodism

So I promised a friend (or two, fine, a couple actually) to keep this blog up. Since I was, oh so confidently, boasted about that here Kanya is finally doing her neglected e-chore. So..

How are you?

Since this is supposed to be a monolog I am great :) and let's put this intro sesh aside and talk about food. Yeah, ever since I started to live by my own, far from family and, especially, my dearest mbak-mbak at home.. I have to cook. Not that am complaining, surprisingly far from that. Now, since we all know a picture says a thousand words:


Chicken Katsu Curry -- One of my food obsessions since I was so young. I think I read too much manga and this was one of my long term curiosity because I have never gotten a chance to try this dish until I was in junior high when japanese restaurants started to swarm the capital. When I moved here, I was so happy to know that the curry block was quite cheap. Howeva, I started to cook a more 'serious' version this year with additional onions, apple, and honey.


Martabak -- This was my first trial ever using the Happycall pan, which was given my grandma. I actually rarely use the pan and this turned a tad undercooked.  Quite sure I'll give it another try in the future, though :)


Onigiri -- Again, my Japanese dishes obsession. Isn't this onigiri wrapper such a cutesy? This is exactly like what you'll get in the Japanese specialty supermarkets/stores in Jakarta (e.g. Kamome). I made few common onigiri with salmon (sake) and tuna mayo fillings. But the other day I got nasi uduk and grilled lamb left-overs and turned them into a couple of onigiri.


Putri Salju -- a bit burned and hard but it was a nice, personal, touch of Ramadhan :)


Homemade Anko (Red Bean Paste) and Matcha (Green Tea) Ice Cream -- This is one of my favorite desserts and I remember how I was disappointed so bad when I tried the one from a small japanese dessert shop in Pondok Indah Mall. I challenged myself to make my own version of homemade Anko, which to my surprise turned just the way I like it! I bought the ice cream from the asian store near unilodge and skipped the white glutinous balls.


Rainbow cake in a jar and red velvet cupcakes -- I did not make them. The rainbow cake was from a friend's mom and the red cupcakes were from my friend. They were nice although I have to stop thinking about the amount of artificial colors when I was eating them.


Banana, Biskuit Mari, Red Velvet flakes, and cream -- put a bit of vanilla essence and a gulp of heaven is yours! This is my current favorite dessert just because it is fast and yum. Who can resist the heavenly combination of banana and cream? The red velvet flakes was additional, though. I was just trying to finish my cupcake :p


Butter Chicken -- This is my favorite Indian food in Australia. I like the mild, sweet, and savoury combination of the dish. Again, I challenged myself to cook the dish. There are various ways to cook this and I like the Australian-adjusted version because the flavour is less strong and more creamy. This was my second attempt and it turned so nice although I skipped few important ingredients like the fenugreek leaves.


Chi Chong Fan (Cheong Fun) -- I still remember waiting for Chong Fan street vendors to stop by  in front of my school during my elementary and junior high days. I don't think Chong Fan is a popular street snacks in Jakarta because they usually used chopped pieces of the un-halal ham. But I was allowed to eat ham back then anywaay :p Btw, since the seller rarely stop-by this has become my long-term crave since forever and a few weeks ago I came across a couple of recipes on the net to make cheong fun. My first trial turned great although I need Hoisin sauce to perfect the cheong fun sauce.

But as much as I love to cook, I still need my mbaks in the end of the day just to do the dishes :p

Tuesday, February 28, 2012

Bercerita

Beberapa orang memuji hasil tulisan saya, sisanya tidak begitu suka.

Saya adalah seorang self-centered yang visual. Suka berimajinasi namun tidak suka menuturkannya. Maka semua karya yang lahir adalah wujud nyata dari semua imajinasi yang ada di kepala saya. Mereka bukan untuk diceritakan, bukan juga untuk diinterpretasikan. Hanya ada, terbentuk dari imajinasi visual yang pernah (atau masih) hidup di dalam kepala saya. Tidak heran, hampir semua tulisan berdasar pada hidup atau pikiran saya sendiri.

Saya bukan seorang pencerita.

Tidak ingin mengetuk hati, menyebarkan pesan tertentu, atau membuka mata (atau hati) orang lain. Mungkin mereka yang menikmati karya saya adalah yang memiliki atau berhasil memahami pengalaman atau imajinasi saya. Seperti memahami lembutnya buih ombak.

Tuesday, February 14, 2012

Kaget Budaya

Sudah lama sekali ngga diupdate ya blog ini :p masa terakhir oktober tahun lalu. Sementara sekarang sudah bulan Februari, artinya sudah hampir 2 tahun saya tinggal di ibukota negara kangguru itu. Beberapa teman yang kuliah di dalam negeri sering tanya 'Gimana sih rasanya kuliah di luar negeri?' sejujurnya, itu pertanyaan yang paling bingung jawabnya. Ya, rasanya.. beda dan harus banyak penyesuaian. Sebelnya kadang kalau pulang bakal kagok lagi sama budaya sendiri mungkin karena saya kuliah di negara sepi yang penduduknya dididik untuk menghormati (dan memahami) aturan. Baru turun dari pesawat saja sudah banyak sekali 'kagetnya'. Contohnya waktu menunggu bagasi, sudah banyak porter yang membantu membawa koper (walaupun saya jarang sekali meminta tolong karena pelit :p pernah sekali minta tolong karena koper saya 'nyangkut' di 'belakang'). Padahal di Australia semua serba sendiri termasuk geret-geret koper seberat 30kg dan segala pernak-pernik saya, makanya semakin lama semakin sedikit yang dibawa.

Selanjutnya mengantri keluar pintu terminal yang kadang bikin darah tinggi karena akhirnya bertemu lagi dengan manusia-manusia yang haus waktu--semuanya harus serba cepat, tidak peduli, dan curang. Bolak-balik saya 'kaget' dan akhirnya cuma bisa senyum (atau ketawa di depan si 'pelaku') sambil liat-liatan sama 'korban' lainnya. Sampai di luar pun harus menyeberang zebra cross untuk ke area parkir, ini yang paling parah, berkali-kali saya ditarik untuk hati-hati karena hampir semua kendaraan melaju seenaknya. Padahal kan zebra cross itu hak pejalan kaki (idealnya :p).

'Kekagetan' lainnya biasanya terjadi pada saat naik eskalator. Di Australia, semua orang harus berdiri di sebelah kiri karena jalur kanan dibiarkan kosong untuk oang-orang yang sedang terburu-buru. Beberapa kali saya ditegur teman atau orang lokal karena berdiri di sebelah kanan. Akhirnya di Jakarta pun otomatis berdiri di sebelah kiri dan kalau sadar ada di sebelah kanan mendadak panik. Padahal ngga pernah ada yang marahin juga :p

Sebenarnya yang paling mengganggu adalah saya jadi sadar akan ruang pribadi yang sangat terbatas di Jakarta. Terutama pada saat mengantri untuk bayar di kasir, entah mengapa orang yang mengantri di belakang saya hobinya 'nempel' sampai benar-benar dekat. Kalau saya mengambil jarak dengan yang sedang membayar, orang di belakang saya akan menempel sangat dekat mungkin supaya saya maju sedikit. kalau saya maju dia akan semakin nempel. Ampun mbak/mas! Kalau yang ngantri panjang sih ngga apa-apa, ini cuma 3 orang.

Pernah suatu kali saya lagi bayar di kasir, ada seorang ABG yang berdiri di sebelah saya sambil memperhatikan transaksi saya, saya pikir dia butuh sesuatu di kasir jadi saya tanya 'Mau ngambil sesuatu di kasir?' dia cuma menggeleng bingung. Saya ikutan bingung, ngapain sih nempel-nempel kalau ngga butuh apa-apa. Ternyata memang dia cuma mau ngantri dan cuma dia yang ngantri di belakang saya. Antiklimaks deh. Saya jadi ingat dengan seorang teman asal Australia pernah komentar tentang konsep ruang pribadi yang sangat terbatas di negara-negara Asia Tenggara. Waktu itu sih saya pikir memang karena negara-negara Asia Tenggara punya lebih banyak penduduk per kapitanya dibanding Australia, tapi ternyata memang budaya lokal aja tuh.

Tapi bukan berarti Indonesia jadi lebih buruk di mata saya ya, sampai hari ini sih kesimpulan saya Indonesia tetap yang terbaik dibanding yang lainnya. Toh kemana pun saya pergi, rumah saya tetap di sini :)