Tuesday, February 14, 2012

Kaget Budaya

Sudah lama sekali ngga diupdate ya blog ini :p masa terakhir oktober tahun lalu. Sementara sekarang sudah bulan Februari, artinya sudah hampir 2 tahun saya tinggal di ibukota negara kangguru itu. Beberapa teman yang kuliah di dalam negeri sering tanya 'Gimana sih rasanya kuliah di luar negeri?' sejujurnya, itu pertanyaan yang paling bingung jawabnya. Ya, rasanya.. beda dan harus banyak penyesuaian. Sebelnya kadang kalau pulang bakal kagok lagi sama budaya sendiri mungkin karena saya kuliah di negara sepi yang penduduknya dididik untuk menghormati (dan memahami) aturan. Baru turun dari pesawat saja sudah banyak sekali 'kagetnya'. Contohnya waktu menunggu bagasi, sudah banyak porter yang membantu membawa koper (walaupun saya jarang sekali meminta tolong karena pelit :p pernah sekali minta tolong karena koper saya 'nyangkut' di 'belakang'). Padahal di Australia semua serba sendiri termasuk geret-geret koper seberat 30kg dan segala pernak-pernik saya, makanya semakin lama semakin sedikit yang dibawa.

Selanjutnya mengantri keluar pintu terminal yang kadang bikin darah tinggi karena akhirnya bertemu lagi dengan manusia-manusia yang haus waktu--semuanya harus serba cepat, tidak peduli, dan curang. Bolak-balik saya 'kaget' dan akhirnya cuma bisa senyum (atau ketawa di depan si 'pelaku') sambil liat-liatan sama 'korban' lainnya. Sampai di luar pun harus menyeberang zebra cross untuk ke area parkir, ini yang paling parah, berkali-kali saya ditarik untuk hati-hati karena hampir semua kendaraan melaju seenaknya. Padahal kan zebra cross itu hak pejalan kaki (idealnya :p).

'Kekagetan' lainnya biasanya terjadi pada saat naik eskalator. Di Australia, semua orang harus berdiri di sebelah kiri karena jalur kanan dibiarkan kosong untuk oang-orang yang sedang terburu-buru. Beberapa kali saya ditegur teman atau orang lokal karena berdiri di sebelah kanan. Akhirnya di Jakarta pun otomatis berdiri di sebelah kiri dan kalau sadar ada di sebelah kanan mendadak panik. Padahal ngga pernah ada yang marahin juga :p

Sebenarnya yang paling mengganggu adalah saya jadi sadar akan ruang pribadi yang sangat terbatas di Jakarta. Terutama pada saat mengantri untuk bayar di kasir, entah mengapa orang yang mengantri di belakang saya hobinya 'nempel' sampai benar-benar dekat. Kalau saya mengambil jarak dengan yang sedang membayar, orang di belakang saya akan menempel sangat dekat mungkin supaya saya maju sedikit. kalau saya maju dia akan semakin nempel. Ampun mbak/mas! Kalau yang ngantri panjang sih ngga apa-apa, ini cuma 3 orang.

Pernah suatu kali saya lagi bayar di kasir, ada seorang ABG yang berdiri di sebelah saya sambil memperhatikan transaksi saya, saya pikir dia butuh sesuatu di kasir jadi saya tanya 'Mau ngambil sesuatu di kasir?' dia cuma menggeleng bingung. Saya ikutan bingung, ngapain sih nempel-nempel kalau ngga butuh apa-apa. Ternyata memang dia cuma mau ngantri dan cuma dia yang ngantri di belakang saya. Antiklimaks deh. Saya jadi ingat dengan seorang teman asal Australia pernah komentar tentang konsep ruang pribadi yang sangat terbatas di negara-negara Asia Tenggara. Waktu itu sih saya pikir memang karena negara-negara Asia Tenggara punya lebih banyak penduduk per kapitanya dibanding Australia, tapi ternyata memang budaya lokal aja tuh.

Tapi bukan berarti Indonesia jadi lebih buruk di mata saya ya, sampai hari ini sih kesimpulan saya Indonesia tetap yang terbaik dibanding yang lainnya. Toh kemana pun saya pergi, rumah saya tetap di sini :)

0 comments:

Post a Comment